Ikhlas dan Riya’

Fudhail bin Iyadh berkata:

ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منها

      Artinya: “Meninggalkan satu perbuatan karena (ingin dinilai atau dipuji) orang adalah riya’, melakukan satu amal perbuatan karena (ingin dinilai atau dipuji) orang adalah syirik dan ikhlas itu adalah ketika anda diselamatkan dari kedua hal itu.”

      Allah swt. hanya menerima dan memberi pahala satu amal jika amal itu dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah atau lillahi ta’ala. Namun menjaga agar hati kita senantiasa ikhlas dalam berbuat ternyata sangat sulit.

Berdasarkan apa yang disampaikan Fudhail bin Iyadh di atas, perbuatan yang tidak ikhlas dapat dikenali dari dua indikator, yaitu ketika anda memutuskan untuk tidak melakukan satu perbuatan yang dianggap buruk, karena ingin dinilai atau dipuji orang bahwa anda orang baik, atau takut dicela atau malu diketahui orang, bukan karena anda memang membenci keburukan itu, maka itu adalah riya’ alias bukan keikhlasan. Sebaliknya, ketika anda melakukan perbuatan baik karena ingin dipuji atau dinilai baik oleh orang, dan bukan karena keharusan untuk melakukan kebaikan itu untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka itu adalah syirik (kecil). Bukankah mengharapkan penghargaan dari makhluk selain Allah pada hakikatnya adalah men’dua’kan Allah?

Ikhlas adalah saat anda melakukan perbuatan baik, dalam bentuk ibadah maupun amal lain, atau tidak melakukan perbuatan buruk apapun, dengan hati yang bersih steril dari keinginan untuk dipuji, disanjung, dinilai atau diperhatikan orang lain, terutama netizen dan teman di sosmed

Bagikan :

Artikel Lainnya

An Nahdlah Salurkan Zakat Fitrah...
UJIAN MADRASAH (UM) ALIYAH BERJA...
An Nahdlah Adakan Sosialisasi da...
Kunjungan Mudir Ma’had Aly As’ad...
An Nahdlah Raih Piala Bergengsi ...
Silaturahim Orang Tua Santri, Pe...

Hubungi kami di : (0411) 3614223-3632073

Kirim email ke kamiponpes.annahdlah01@gmail.com