Muslim Itu Rahmat

Dalam QS Al-Anbiyaa : 107 Allah berfirman: “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil ‘alamiin,” yang artinya “Dan Kami tidak utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.”

Ayat ini sudah banyak disebutkan oleh para dai dan penceramah di mana-mana. Para dai telah ijma bahwa makna ke-rahmat-an pada diri Nabi Muhammad adalah agama Islam ini. Islam merupakan ajaran yang membawa rahmat bagi manusia.

Rahmat adalah nilai kasih dan sayang yang bersifat universal. Islam bukan ancaman, agitasi dan teror bagi agama lain, karena dia datang bukan untuk menghapus agama yang ada, tetapi meluruskan akidah dan melengkapi syariat. Jika ada yang mendakwahkan Islam dengan suara keras, mata mendelik memerah dan wajah sangar dengan mengacungkan tinju terkepal, jangan-jangan bukan rahmat yang dia sampaikan.

Secara tekstual, ayat tersebut bicara tentang diri Nabi Muhammad, sebagai utusan dan rahmat. Namun jika diaktualisasikan pada kehidupan umat Islam saat ini sudah tidak tepat lagi jika nilai ke-rahmat-an itu hanya dinisbahkan atau dilekatkan pada diri Nabi, dan kita tidak berupaya menarik nilai tersebut sebagai karakter keislaman kita.

Sebagai umat Nabi Muhammad, sejatinya keislaman kita adalah keislaman ala manhaj nubuwwah, muslim yang rahmat. Rahmat bagi dirinya, rahmat bagi masyarakatnya, rahmat bagi bangsa dan negaranya.

Terlepas dari kemuliaan akhlak Nabi yang amat komprehensif, risalah Islam sebagai rahmatan lil alamin dapat dibagi dalam tiga term: 

Pertama, rahmat dalam arti memperbaiki. Memperbaiki yang rusak dan tidak merusak yang sudah baik. Jika anda tidak membiarkan atap rumah anda bocor, sepeda motor anda mogok, dan anak anda berandalan, lalu diusahakan semaksimal mungkin atap itu diperbaiki, sepeda motor diservice dan anak dididik dengan akhlakul karimah, maka anda menjadi rahmat bagi rumah, sepeda motor dan anak anda.

Sistem negara yang belum baik atau rusak harus diperbaiki dengan cara yang rahmat. Bukan membongkar habis atau mengganti yang tidak mesti diganti. Jika sekiranya TV anda beramasalah suaranya atau kejernihan warnanya, apakah harus dibongkar habis dan diganti semua?

Kedua, rahmat adalah mendamaikan. Seorang muslim yang meneladani sifat rahmat Nabi adalah muslim yang menebar kedamaian di mana pun dia berada. Bukan menjadi pencipta konflik, menyulut permusuhan dan kebencian, menyebarkan hate speech dan agitasi yang mengarah kepada perpecahan umat. Islam mewajibkan kita untuk melakukan ishlah yaitu mendamaikan dan menghilangkan potensi konflik, bukan justru menyiramkan bensin di atas bara api. 

Ketiga, rahmat adalah mengamankan. Keamanan adalah salah satu prasyarat kemajuan suatu masyarakat atau bangsa. Selain itu, rasa aman adalah hak asasi setiap manusia. Olehnya itu, muslim yang rahmat sejatinya memberikan rasa aman kepada orang di sekitarnya.

Segala bentuk teror dan hujatan, yang menciptakan ketakutan pada orang lain, adalah perilaku yang jauh dari tuntunan Islam yang rahmat.

Nabi bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga tetangganya merasa aman dari kelakuannya.” Mari kita menjadi rahmat bagi semua, sebagaimana Nabi adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. (*)

Bagikan :

Artikel Lainnya

An Nahdlah Salurkan Zakat Fitrah...
UJIAN MADRASAH (UM) ALIYAH BERJA...
An Nahdlah Adakan Sosialisasi da...
Kunjungan Mudir Ma’had Aly As’ad...
An Nahdlah Raih Piala Bergengsi ...
Silaturahim Orang Tua Santri, Pe...

Hubungi kami di : (0411) 3614223-3632073

Kirim email ke kamiponpes.annahdlah01@gmail.com